HUT AcehEkspres.com ke 3

Korban Tewas Myanmar Tembus 300 Jiwa, Kantor Suu Kyi Dibom

Korban Tewas Myanmar Tembus 300 Jiwa, Kantor Suu Kyi DibomFoto: AP
Polisi menembakan gas air mata saat demo di Myanmar.

JAKARTA - Korban tewas akibat tindakan kekerasan yang dilakukan pihak junta militer Myanmar dilaporkan menembus angka 300 jiwa.

Dikutip Channel News Asia (CNA), Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) menyatakan sudah 320 orang tewas di tangan junta militer.

Mereka menambahkan bahwa kematian ini terjadi setiap hari. Pada hari Kamis saja, tercatat sembilan orang yang tewas, saat mereka melakukan aksi demonstrasi menentang kudeta junta militer.

"Kejahatan terhadap kemanusiaan dilakukan setiap hari," ucap organisasi non-profit itu dikutip, Jumat, 26 Maret 2021.

Hal ini bertolak belakang dengan klaim junta pada awal minggu lalu. Mereka mengatakan bahwa 164 orang telah tewas dan menyebut para korban itu sebagai "teroris".

Sementara itu, terjadi ledakan bom molotov di kantor Partai Liga Nasional Untuk Demokrasi atau NLD besutan Aung San Suu KyI pada Jumat pagi. Sekitar pukul 4 pagi, seorang penyerang melemparkan bom molotov ke markas besar di Yangon dan menyebabkan kebakaran singkat.

"Ketika penduduk di sekitar mengetahui tentang kebakaran itu, mereka menelepon dinas pemadam kebakaran untuk memadamkannya. itu dikendalikan sekitar pukul 5 pagi," kata Soe Win, seorang anggota NLD yang bertanggung jawab atas markas itu, kepada AFP.

"Tampaknya seseorang menyalakan koktail Molotov dan melemparkannya ke markas."

Dilaporkan pada serangan itu hanya pintu masuk kantor yang hangus. Anggota partai juga sudah berada di dalam untuk menilai kerusakan.

"Kami harus mengajukan pengaduan ke polisi ... Kami tidak tahu siapa yang melakukan ini, tapi itu sama sekali tidak bagus," kata Soe Win, menolak untuk berspekulasi tentang alasan penyerangan tersebut.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak 1 Februari ketika militer melancarkan kudeta dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Ini mengakhiri era demokrasi selama satu dekade terakhir dan memicu protes massa setiap hari.

Militer melakukan hal ini karena mereka merasa pemilu yang dimenangkan kubu Suu Kyi pada November lalu adalah pemilu yang penuh kecurangan. Maka itu, militer menyatakan keadaan darurat selama setahun dan mengambil alih kekuasaan. Selain itu mereka berjanji akan mengadakan pemilu ulang.

Akibat protes dan kekerasan yang terus terjadi ekonomi Myanmar diprediksi bakal terjun bebas tahun 2021 ini. World Bank (Bank Dunia) meramal ekonomi Burma kontraksi 10%.[]