HUT AcehEkspres.com ke 3

Oknum Keuchik di Abdya Diduga Palsukan Surat Keterangan Kematian Warganya

Oknum Keuchik di Abdya Diduga Palsukan Surat Keterangan Kematian Warganya
Ilustrasi Akta Kematian

BLANGPIDIE, ACEHEKSPRES.COM - Seorang oknum Keuchik disalah satu gampong dalam Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) diduga palsukan Surat Keterangan Meninggal Dunia salah seorang warganya.

Surat yang ditanda tangani oknum keuchik tersebut dengan nomor : 33/**/SKMD/X/2018 tanggal 02 Oktober 2018 berisikan tentang kematian salah seorang warganya berinisial DK (37), jenis kelamin laki-laki, pekerjaan wiraswasta, yang telah meninggal dunia, Sabtu 27 Mei tahun 2014 di kediamannya.

Padahal, pria yang disebutkan telah meninggal itu, nyatanya masih hidup dan dapat menghirup udara segar, makan, minum, bahkan dapat melakukan semuanya dengan normal selayaknya masyarakat pada umumnya.

Oknum Keuchik berinisial, AN menyampaikan, dirinya tidak terlalu mengingat kepastian terkait pembubuhan tanda tangan yang ditanda tangani olehnya disurat tersebut.

"Benar, itu memang tanda tangan dan atas nama saya, tapi saya tidak ingat persis kapan surat itu saya tandatangani," kata Oknum Keuchik berinisial, AN, Senin 15 Juni 2020

AN juga mengatakan, dirinya dan DK beserta keluarga juga sudah mendatangi Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Abdya.

"Kami sudah pernah datang ke kantor Disdukcapil untuk memberikan keterangan dan penjelasan terkait perihal Akta Kematian atas nama berinisial DK," ujar Oknum Keuchik

Selanjutnya, lelaki berinisial DK yang dicantumkan namanya disurat tersebut menyatakan, pernyataan di surat keterangan itu merupakan kekeliruan disaat hendak mengurus akta kematian orang tua kandung dari anak angkatnya.

"Surat itu keliru dibuat, tujuan pembuatan surat itu untuk pengurusan akta kematian ayah kandung dari anak angkat saya, agar bisa di urus dana santunan anak yatim, lantas yang dicantumkan tersebut nama saya, bukan nama ayah kandungnya, kebetulan nama ayah kandungnya hampir sama dengan nama saya," kata DK

DK juga menambahkan, terkait santunan kematian yang menurut informasi telah diterimanya itu tidak benar, bahkan dia mengaku pernah mendapatkan sejumlah dana untuk anak yatim juga ditolaknya ke pihak sekolah tempat anak angkatnya itu meniti ilmu pendidikan.

"Saya dan kekuarga tidak pernah menerima santunan kematian seperti apa yang dituduh terhadap kami, kami tidak menerima dan tidak mengambil dana apapun, terkait permasalahan ini, saya tidak menyalahkan dan tidak menuntut pihak manapun," jelas DK.

DK juga berharap kepada instansi terkait agar data pribadinya untuk segera diaktifkan kembali, karena menurutnya identitas pribadi sangat diperlukannya sewaktu-waktu dikemudian hari.

"Saya juga berharap agar identitas saya untuk segera diaktifkan kembali oleh instansi terkait," harap DK.

Dihubungi terpisah, salah seorang warga gampong itu yang tidak ingin namanya ditulis di media, mengatakan, informasi tersebut didapatkannya dari salah satu warga yang kebetulan ada keperluan di kantor Disdukcapil.

Lalu petugas Disdukcapil menyampaikan, ada akta kematian yang belum diambil oleh ahli warisnya yang berasal dari gampong tersebut.

"Informasi itu saya dengar dari salah seorang warga, dia mendapatkan kabar dari petugas kantor Disdukcapil waktu dia mau mengurus KTP," pungkasnya

Ia juga berharap agar pihak penegak hukum dapat memproses perihal perkara ini, agar isu yang beredar tersebut dapat dipahami dan dimengerti oleh masyarakat.

"Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua agar lebih jeli dan teliti dalam mengurus dan menginput data disaat hendak mengurus keperluan administrasi apapun," tutupnya.[]