HUT AcehEkspres.com ke 3

Satu Keluarga Masuk Islam di Subulussalam, Jadi Binaan Yayasan RMC

Satu Keluarga Masuk Islam di Subulussalam, Jadi Binaan Yayasan RMC
Ust. Maksum, S.PdI membimbing Pasutri Rusdi Manik - Tesa Rospita mengucap dua kalimah syahadat yang menyatakan masuk Islam, di aula Yayasan RMC, Selasa, 11 Agustus 2020. [For Acehekspres.com]

SUBULUSSALAM, ACEHEKPRES.COM - Pasangan suami istri (Pasutri), Rusdi Manik dan Tesa Rospita Fitriyani Padang warga Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam masuk Agama Islam.

Pasutri tersebut menjadi binaan Yayasan Rumah Mualaf Center (RMC), Desa Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Prosesi pensyahadatan (pengucapan dua kalimah syahadat) dibimbing Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Subulussalam, Tgk. Maksum, S.PdI dan di-peusijuk di aula Yayasan RMC, Selasa, 11 Agustus 2020.

Acara yang dipandu Ketua Yayasan RMC Kota Subulussalam, Juliamin Banurea, disaksikan Sekretaris Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah (DSI-PD), Musjoko, M.Pd dan Rifay Ananda Al Hafizh.

Diawali pemeriksaan berkas/identitas terkait dan latar belakang menjadi mualaf serta pengucapan syahadat, Tgk. Maksum sekaligus memberikan tausiyah. Dibacakan juga 'Pernyataan Kesadaran Sendiri Masuk Islam' oleh Rospita. Sore harinya disusul pelaksanaan khitan (sunat rasul).

Ketua Yayasan RMC Juliamin Banurea membuka acara mengatakan, Pasutri Rusdi Manik dan Tesa Rospita Fitriyani Padang memiliki dua anak balita menyatakan masuk Islam dengan kesadaran sendiri.

"Dengan menyatakan kesadaran sendiri masuk Islam, pasangan suami istri ini kita syahadatkan," jelas Juliamin berharap keduanya dan para mualaf binaan Yayasan RMC tetap kukuh dan taat dalam Islam.

Memberi sambutan di sana, Sekretaris DSI-PD, Musjoko, M.Pd, mewakili pemerintahan desa, Berutu dan pembina Yayasan RMC, Khairul.

Terpisah, Ketua Yayasan RMC Juliamin Banurea mengatakan, terhadap 150-an jiwa (45 KK) mualaf binaan Yayasan RMC dilakukan pembinaan rutin setiap hari/malam, kecuali terhadap warga di luar komplek Yayasan RMC hanya sekali dalam sepekan.

Dikatakan, banyak persoalan dihadapi dalam mengelola Yayasan RMC, termasuk sarana/prasarana. Persoalan transportasi/bus jemput antar warga binaan, dinilai sangat penting karena warga binaan tersebar di lima kecamatan.

Juliamin Banurea berharap, Pemko Subulussalam atau para dermawan di daerah ini membantu dan memberi solusi agar armada, bus jemput antar bina terpenuhi.

Persoalannya, sejumlah warga binaan harus mengeluarkan uang transportasi antara Rp25.000 hingga Rp30.000 sekali jalan.

Di sisi lain, lokasi Yayasan RMC berjarak sekira 2 km dari pusat Kota Subulussalam, bahkan antara 10 hingga 20 km dari selain Kecamatan Simpang Kiri, menjadi salah satu pemikiran akan pentingnya bus jemput/antar.

"Semangat warga binaan mengikuti kegiatan rutin mingguan sangat kita apresiasi," apresiasi Juliamin tak berharap semangat ini justru kendor karena biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya transportasi sementara keadaan ekonomi warga juga tidak semua mapan.

Persoalan lain, sarana/prasarana mushalla masih sangat memprihatinkan. Fasilitas yang saat ini bisa dimanfaatkan di sana, lima Ruang Kelas Relajar (RKB).

Dikatakan, sejak berdiri 2017 dan diresmikan Wakil Wali Kota, Salmaza awal Januari 2020 lalu, setidaknya telah disyahadatkan (mualaf) sekira 15 orang. []