HUT AcehEkspres.com ke 3

Situs Cagar Cut Nyak Dhien di Nagan Raya

Situs Cagar Cut Nyak Dhien di Nagan Raya
Koordinator Presidium MD KAHMI, Jailani, SP foto bersama Jajaran KAHMI, Johansyah, Arif Budiman, Amran, Ketum HMI, Zubir dan Sekum Yusnaidi serta Ketua HMI Komisariat STIAPEN, Khairul, Senin, 3 Agustus 2020. [Saiful Bahri/ ACEHEKPRES.COM]

SUKA MAKMUE, ACEHEKPRES.COM - Situs cagar persinggahan pahlawan Cut Nyak Dhien dengan para pengembara masa perjuangan berada di Masjid Baitul Mamur, Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya.

Cagar tersebut selama ini di jaga dan dirawat warga setempat untuk tidak terjadi kehilangan kekhasan nilai budaya. Banyak tugu sejarah yang dibangun di wilayah Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat.

Warga sengaja menulis 'Batu Cut Nyak Dhien' di pohon Asan berukuran kurang 80 cm di Gampong Meunasah Dayah yang pernah dijadikan sebagai tempat berteduh, Cut Nyak Dhien. Rute itu merupakan ketika Cut Nyak Dien dan pejuangnya mengembara.

Menurut cerita salah satu warga, tulisan tersebut untuk mengenang perjuangan Cut Nyak Dhien, dimana pohon dan batu itu beliau istirahat sejenak dari mengembara.

Selain itu, juga untuk menjauh dari kejaran pasukan Belanda, karena pengkhianatan Pang Laot Ali yang tidak lain adalah prajurit kepercayaan Cut Nyak Dhien.

Siapa yang tidak kenal dengan Cut Nyak Dien, pejuang perempuan dari 'Tanah Rencong' namanya dikenang abadi dalam catatan sejarah perjuangan Indonesia,

berkat keberanian dan kegigihannya melawan pasukan kolonial Belanda. Walaupun pada akhirnya ia berhasil dibekuk dan wafat dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat.

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, pada tahun 1848. Ia merupakan keturunan bangsawan, ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang Ulee Balang yang merupakan golongan bangsawan Aceh yang memimpin sebuah kenegerian nanggroe setingkat kabupaten di VI Mukim.

Masa perjuangan Cut Nyak Dien dimulai sejak 26 Maret 1873, kala itu Belanda telah menyatakan perang kepada Aceh. Tak tanggung-tanggung, pasukan yang dikerahkan Belanda untuk berperang melawan rakyat Aceh berjumlah sekitar 3.198 prajurit.

Kini, Cut Nyak Dhien bagi warga Aceh khususnya warga Kabupaten Aceh Barat dan warga Kabupaten Nagan Raya memiliki sejarah tersendiri, karena wilayah kabupaten itu menjadi lokasi perjuangan Cut Nyak Dhien melawan Kolonial Belanda.

Dalam kesempatan itu, Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD-KAHMI) Nagan Raya, Jailani, SP, mengatakan, pemerintah seharusnya mengangkat sejarah Cut Nyak Dhien, karena sejarah tidak mungkin bisa diualang kembali.

"Kita berharap kepada pemerintah untuk mengangkat sejarah-sejarah Cut Nyak Dhien yang ada di Nagan Raya, karena ini merupakan sejarah yang tidak bisa di ulang kembali, makanya harus diangkat situs sejarah ini," kata Jailani kepada ACEHEKPRES.COM,

saat berkunjung ke kediaman mantan Komisioner KIP Nagan Raya 2013/2018 Arif Budiman,S.Pd,M.Pd di Gampong Meunasah Dayah, Senin, 3 Agustus 2020.

Ia juga berharap agar masyarakat dan pemerintah tetap menjaga rute-rute perjalanan yang pernah di lalui Cut Nyak Dhien, hal itu bertujuan untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur di medan pertempuran.

"Kami berharap agar kita bersama-sama tetap menjaga dan merawat situs-situs dan tempat rute perjalanan yang pernah dilalui para pahlawan, tujuannya untuk mengenang para syuhada yang bernah berjuang untuk memerdekaan Indonesia," pungkasnya.[]